Untuk Apa Kau Menandai Waktu?

Jejak-jejak yang Terserak

untuk apa kau menandai waktu
Rahasia | Laksana Tudung Rasa I Untuk Apa Kau Menandai Waktu? | Stanza [Episode 1] | Stanza [Episode 2] | Rahim |Petrichor Lain I |Petrichor Lain II | Skrip | Melodi Untuk ibu | Kereta Terakhir | Cerita Kereta | Salju Berdarah Leiden | Dongeng dan Nyanyian Rahim (I) | Dongeng dan Nyanyian Rahim (II)| Pulang | Teruntuk Sahabat Bulan | Remediasi

Itulah kedelapan belas judul cerita pendek yang pada akhirnya bisa saya selesaikan membacanya. Kesemua cerita tersebut berada di dalam buku kumpulan cerita berjudul “Untuk Apa Kau Menandai Waktu?” Bisa ditebak bahwa judul buku tersebut diambil dari salah satu judul cerita pendek di dalamnya.

Saya mendapatkan buku ini sebagai hadiah. Hadiah karena tulisan saya yang berjudul “Menandai Waktu” terpilih menjadi salah satu pemenang Giveaway Untuk Apa Kau Menandai Waktu.  Buku ini datang bersama satu buku lainnya berupa novel berjudul “Tentang Waktu”. Mudah-mudahan saya bisa menyelesaikan buku…

View original post 467 more words

Mengirim Cerpen ke Majalah dan Koran

newsppaer

Berikut ini beberapa alamat media massa yang memberi wadah bagi kita untuk mempublikasikan naskah cerpen kita. Aku sudah merangkumnya supaya teman-teman bisa mengirimkan karya untuk diterbitkan. Semoga bermanfaat.

CERPEN REMAJA

1. Majalah Gadis

Obrolan, kuis, cinta: 2-3 hal folio

Percikan: 2 hal folio

Cerpen: 6-7 hal folio

Cantumkan identitas, no rekening, no telp

Email: redaksi.gadis@feminagroup.com

2. Majalah Story

Cerpen: 13.000-14.000 karakter with spaches, spasi 2, sekitar 10 halaman

Cerbung: 26.000-40.000 karakter with spaches, spasi 2, sekitar 30 halaman

Novelet: 30.000-35.000 karakter with spaches, spasi 2, sekitar 25 halaman

Cerpen Bahasa Inggris: 6.000 karakter with spaces, sekitar 4 halaman

Serial: panjang naskah tiap judul sama dengan cerpen, minimal harus mengirim 5 judul

Tema harus remaja, boleh science fiction, horror, komedi, atau romance.

Menyertakan foto dan biodata singkat

Kirim ke: story_magazine@yahoo.com

Subyek diisi: cerbung, cerpen, serial, dll

via pos ke: Redaksi Story, Jl. Raya Kedoya Duri No. 36, Kebun Jeruk, Jakarta 11520.

CERPEN DEWASA

1. www. Suaramerdeka.com

12.494 dengan karakter

Tema bebas

Email: rep@suaramerdeka.com

2. Suarakarya-online.com

10.073 dengan karakter

Tema bebas

Email: redaksi@suarakarya-online.com

3. Balipost.co.id

7.868 dengan karakter

Tema tentang bali

4. Suarapembaruan.com

9768 dengan karakter

Tema bebas

Email: koransp@suarapembaruan.com

sastra@suarapembaruan.com

5. Sriwijayapos.com

tema lebih condong ke kritik pemerintahan

Email: sripo@persda.co.id,

sripo@mdp.net.id,

sriwijayapost@yahoo.com,

redaksisripo@yahoo.com

6. Republika.co.id

Maks 9000 karakter

tema: lokalitas dan religiunalitas

Email: sekretariat@republika.co.id

7. Kompas.co.id

maks 16000 karakter

email: kcm@kompas.co.id

opini@kompas.com

opini@kompas.co.id

Krtiteria umum untuk cerpen Kompas, maksimal 10.000 karakter termasuk spasi atau 8 halaman kuarto

8. Malang Post

Email: mpost03@yahoo.com

9. Serambinews

Email: ampuh@serambinews.com

10. Majalah Femina

Email: asri.kusumawati@feminagroup.com

11. Jawa Pos

Opini 850 kata

Cara Menerbitkan Novel

Books

Aku menulis post ini karena banyak teman-temanku—para penulis muda—yang masih bingung, bagaimana cara menerbitkan novel yang sudah mereka buat. Aku belajar banyak dari saudara kembarku yang sudah menerbitkan beberapa novel. Berikut akan kubahas, bagaimana urutan cara menerbitkan novel. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Cara Menerbitkan Novel:

  1. Tentukan tema dari novel itu terlebih dulu. Misal: Novel Islami, Novel Teenlit, Novel Remaja, Novel Dewasa, dll.
  2. Para penerbit besar tak akan mau menerima novel lewat email. Naskah yang dikirimkan melalui e-mail, pasti akan menyulitkan tim editor dalam melakukan penilaian naskah. Jadi kita wajib mencetaknya dan mengirim lewat pos.
  3. Tebal naskah antara 100 – 200 halaman
  4. Kriteria penulisan sesuai standar. Ukuran font 12, Times New Roman. Dicetak di kertas a4 dan jangan lupa diberi nomor halaman.
  5. Usahakan naskah yang dikirim dalam bentuk yang sudah dijilid rapi supaya editor nyaman dan tertarik sama naskah kita.
  6. Naskah harus disertai synopsis singkat (1-2 halaman) dan biodata singkat penulis.
  7. Jika cerita dalam naskah tersebut sesuai dengan standar penerbitan, penulis akan dihubungi. Tapi menunggu kabar dari penerbit harus ekstra sabar karena proses seleksi sangat lama, sekitar 3-5 bulan.
  8. Naskah yang tidak memenuhi kriteria akan dikembalikan oleh penerbit. Biasanya disertai surat yang menyatakan alasan kenapa mereka menolak naskah kita.
  9. Penerbit besar tidak pernah memungut biaya apa pun kepada penulis yang ingin menerbitkan naskahnya.
  10. Untuk alamat-alamat penerbit, lihat post berikutnya.

Surat untuk Izrail

Clock

Kepada: Izrail

Izrail, bilamana kau mau menjemputku?

dengarlah aroma kerinduanku

tentang aroma tanah basah

tentang bunga-bunga gugur kamboja

Izrail, aku cium melodi mati

bayangan jisim dibasuh air wudlu

derak langkah pria menandu keranda

dan alunan ritmis kalimat tahlil

aku membutuhkan Dia

seperti akar pada Bumi

seperti nafas-nafas lemah dalam dekap rahim

Dia selayaknya lintang yang menunjukkan mata angin

seperti orbit yang menentukan langkah-langkah tak tentu arah

tapi ketahuilah

akar tak bisa berdiri pada bumi yang mati

tak bisa hidup dalam kering rahim ibu

maka kemana Dia membawa pergi

jika tak ada jalan tempat melangkah

sedang kau tahu

bahkan lintang telah lama musnah

Izrail, bilamana kau mau menjemputku?

Malang, 25 Oktober 2011

Arum Effendi

Kawan

Vintage clock

Kawan. Ya, itulah sebutan yang paling kusukai untuk memanggilmu. Tapi, bolehkah? Berhakkah aku? Barangkali kau belum mengenalku. Atau kau tak tahu siapa aku. Mungkin tak pernah melihatku. Dan bahkan tak peduli.
Kawan.
Terdengar seolah kita tak berjarak. Seolah kita sudah saling mengenal.

Lantas 184 hari.
Ya. 4.416 jam.
Atau mungkin kau ingin menyebut 264.960 menit.
Apa pun itu, selama itulah kita berkenal.
Aku mengenalmu lewat basah jalan beraspal. Dan kerikil serta debu. Lewat gerimis September. Kemeja cokelat. Juga sebingkai kacamata. Lewat keramaian pejalan kaki. Dan juga diammu yang sempurna. Pula satu hal yang paling melekat dalam serabut otakku. Lewat sujud kita.

Kawan, kapankah kita terakhir bertatap? Mungkin sebelum takbir berkumandang. Atau kala fajar baru pulang. Titik dimana aku tak dapat menikmati diammu lagi.

Kawan, waktu sudah terpaut lama sejak titik itu. Bilakah aku bisa bersujud di sisimu lagi? Menghirup partikel udara yang sama? Mencium tanah dimana tangan kita sama-sama mengaram?

Bila aku diizinkan untuk bernafas hingga bulan itu, perkenankan aku mengetahui satu hal. Hanya namamu saja.
Sebab aku tak lagi peduli dengan pertanyaan retoris Shakespeare.
What is in a name?
Barangkali aku bakal berdebat dengan pria itu. Apapun arti sebuah nama, hanya satu hal yang kupahami pasti. Bahwa aku harus mengetahui namamu.
Tapi bila dia tak mengizinkanku berdiri hingga tiba bulan itu, maka perkenankan aku tetap memanggilmu seperti sedia kala: ‘kawan’.

Malang, 16 April 2010
Arum Effendi
—Untuk pemuda tak bernama

Membutuhkanmu

Rain

Aku membutuhkanmu

Seperti akar pada Bumi

Seperti nafas-nafas lemah dalam dekap rahim

Kau selayaknya lintang yang menunjukkan mata angin

Seperti orbit yang menentukan langkah-langkah tak tentu arah

Tapi ketahuilah

Akar tak bisa berdiri pada bumi yang mati

Tak bisa hidup dalam kering rahim ibu

Maka kemana kau membawa pergi

Jika tak ada jalan tempat melangkah

Sedang kau tahu

Bahkan lintang telah lama musnah

Malang, 6 Oktober 2010

Mengenangmu

Flower

Entah kenapa, bayanganmu mendadak hadir tanpa bisa kuperkirakan sebelumnya.

Aku melihat secangkir kopi dan dua potong kue brownies pada pagi yang menusuk tulang

Di kamar dengan aroma kaum adam. Aku melihat sebuah pagi sederhana, tapi begitu bermakna.

Aku melihat dua orang dalam sebuah kolam berwarna kekuningan. Kolam belerang. Berenang berdua di bawah gerimis perbukitan. Masih bisa kucium aroma alam.

Aku melihat mereka tengah menghitung koin-koin yang entah kenapa tampak berjumlah ratusan. Ada yang tertawa karena kemenangan. Kulihat pula kekesalan karena hukuman dan kekalahan.

Aku pun mengingat sebuah pagi buta. Seseorang datang dengan sebuah kue ulang tahun dan kotak hadiah dalam kardus besar. Tahukah kau, itu adalah ulang tahun paling indah seumur hidupku.

Masih kuingat, tiap kali kau datang ke rumahku. Berbagai macam minuman tersedia, bergantian. Secangkir kopi, teh hangat, atau sekedar air putih. Entah kenapa, aku yang lebih sering meminumnya sendiri.

Kita. Dan sahabat serahimku. Di sebuah kamar sederhana. Berlomba, meributkan sesuatu. Surat-surat Al Quran bergantian bersahutan. Kompetisi kita yang lain lagi.

Mengenangmu. Terlalu banyak kisah berlalu. Kenanglah. Memori itu tak akan pernah mengelupas dari benakku.

– Awal Desember.