Perpisahan yang Manis

a cup of bitter espresso

Pernahkah membayangkan sebuah perpisahan yang manis?

Manis bukan karena kita tak saling menyayangi. Bukan karena kita tak saling memiliki. Tapi, manis karena aku yakin bahwa kita akan selalu bersama sampai kapan pun—walaupun bukan sebagai sepasang kekasih.

De Pan’s, sebuah sore di Awal Desember…

Kita duduk berdua di bangku pojok kafe itu. Dengan secangkir espresso pahit di hadapanku.

Mungkin kau melihat tawa di wajahku. Kau melihat bahagia di sana. Seolah aku orang paling beruntung atas perpisahan ini. Tapi, kau tak akan pernah tahu: aku sangat kehilangan sosokmu. Hanya saja aku begitu pintar bersandiwara.

Kita akan bersahabat selamanya. Ya, itulah akhir dari semua. Tapi, sungguh aku masih sama seperti yang dulu. Masih ingin menjagamu. Masih suka bercanda yang kelewatan denganmu. Masih ingin saling menjahili.

Kamu sudah begitu lama di sini. Kamu sudah seperti bagian dari hidupku sehari-hari. Rumahku masih penuh dengan kehangatan ibu padamu. Masih penuh dengan ocehan adikku tentangmu. Kamu begitu dekat, begitu nyata.

Tapi, lupakan saja. Terlalu banyak perbedaan. Terlalu banyak halangan. Sedangkan aku tak sekuat yang kamu bayangkan. Aku tak setegar itu. Tak setangguh kamu.

Dan sore itu,  di hari perpisahan kita, kita masih bisa tertawa. Kita masih menikmati sepiring waffle di meja. Kita masih saling bersuap ice cream seperti biasa. Sungguh, semua tak pernah berbeda. Kamu harus tahu itu.

Semoga kau temukan kekasih sejati. Yang lebih baik dariku.

-sebuah sore di bulan terakhir tahun itu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s