Kawan

Vintage clock

Kawan. Ya, itulah sebutan yang paling kusukai untuk memanggilmu. Tapi, bolehkah? Berhakkah aku? Barangkali kau belum mengenalku. Atau kau tak tahu siapa aku. Mungkin tak pernah melihatku. Dan bahkan tak peduli.
Kawan.
Terdengar seolah kita tak berjarak. Seolah kita sudah saling mengenal.

Lantas 184 hari.
Ya. 4.416 jam.
Atau mungkin kau ingin menyebut 264.960 menit.
Apa pun itu, selama itulah kita berkenal.
Aku mengenalmu lewat basah jalan beraspal. Dan kerikil serta debu. Lewat gerimis September. Kemeja cokelat. Juga sebingkai kacamata. Lewat keramaian pejalan kaki. Dan juga diammu yang sempurna. Pula satu hal yang paling melekat dalam serabut otakku. Lewat sujud kita.

Kawan, kapankah kita terakhir bertatap? Mungkin sebelum takbir berkumandang. Atau kala fajar baru pulang. Titik dimana aku tak dapat menikmati diammu lagi.

Kawan, waktu sudah terpaut lama sejak titik itu. Bilakah aku bisa bersujud di sisimu lagi? Menghirup partikel udara yang sama? Mencium tanah dimana tangan kita sama-sama mengaram?

Bila aku diizinkan untuk bernafas hingga bulan itu, perkenankan aku mengetahui satu hal. Hanya namamu saja.
Sebab aku tak lagi peduli dengan pertanyaan retoris Shakespeare.
What is in a name?
Barangkali aku bakal berdebat dengan pria itu. Apapun arti sebuah nama, hanya satu hal yang kupahami pasti. Bahwa aku harus mengetahui namamu.
Tapi bila dia tak mengizinkanku berdiri hingga tiba bulan itu, maka perkenankan aku tetap memanggilmu seperti sedia kala: ‘kawan’.

Malang, 16 April 2010
Arum Effendi
—Untuk pemuda tak bernama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s